Senin, 06 Agustus 2012

SHOW ME MORE


show me a picture so I may envision a tale
as azure as the dreams of humanity's slumber
when all good folks slide from reality's grip
or maybe the hue of a moonless sky
devilishly smoked as crow stew and
black licorice tapioca delight

sing to me with a voice not mine
in sultry gentleness that suggests a calm
flutter of orchestrated flight
under a moon's revealing gaze
or maybe a course due of pickaxes
laboring with prideful lust, of
grateful hands toiling in tune

place on my tongue a flavor of your desire
velvety smooth, wet, quenching the palate
an exquisite elixir of fairy's brew
or tickle the buds with tartful play
brackish bitterness and burning spice
reminders of those who have little
to choose in their next meal

caress my palm with a passing breath
so I may feel the miracle in life's simplest
perfunctory duty bringing sensual pleasure
or so I may giggle over the ticklish torture
teardrops shedding pains no longer endured
upon the winds of promise and fortune

do for me what I cannot do myself
provide new meaning to old possibilities
satiate the need to be more
see more
feel more
taste more of the fantasy beyond
reality's austere hold on
me

2011, Paolo Mateo et al

AKU INGIN

Oleh : Sapardi Djoko Damono

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

KETIKA ENGKAU BERSEMBAHYANG


Oleh : Emha Ainun Najib

Ketika engkau bersembahyang
Oleh takbirmu pintu langit terkuakkan
Partikel udara dan ruang hampa bergetar
Bersama-sama mengucapkan allahu akbar

Bacaan Al-Fatihah dan surah
Membuat kegelapan terbuka matanya
Setiap doa dan pernyataan pasrah
Membentangkan jembatan cahaya

Tegak tubuh alifmu mengakar ke pusat bumi
Ruku' lam badanmu memandangi asal-usul diri
Kemudian mim sujudmu menangis
Di dalam cinta Allah hati gerimis

Sujud adalah satu-satunya hakekat hidup
Karena perjalanan hanya untuk tua dan redup
Ilmu dan peradaban takkan sampai
Kepada asal mula setiap jiwa kembali

Maka sembahyang adalah kehidupan ini sendiri
Pergi sejauh-jauhnya agar sampai kembali
Badan di peras jiwa dipompa tak terkira-kira
Kalau diri pecah terbelah, sujud mengutuhkannya

Sembahyang di atas sajadah cahaya
Melangkah perlahan-lahan ke rumah rahasia
Rumah yang tak ada ruang tak ada waktunya
Yang tak bisa dikisahkan kepada siapapun

Oleh-olehmu dari sembahyang adalah sinar wajah
Pancaran yang tak terumuskan oleh ilmu fisika
Hatimu sabar mulia, kaki seteguh batu karang
Dadamu mencakrawala, seluas 'arasy sembilan puluh sembilan
 
1987

Pebble Parable


I used to skip pebbles across
the surface of a trout filled brook,
watch them glide to the bottom
and glisten in the sun.
Growing older, I plummeted through
layers of pressure to the murky depths
of the sea hunting for buried treasure.
It took a lifetime and near death to
finally realize the futility of my search.

We cannot know why some float
and glisten while others plummet into
an abyss never to see the sun again,
or why one seed lands in a fertile field
and another in a sea of concrete.
I used to think I could do anything,
the master of my destiny,
until I realized that free will doesn’t
mean I can command rain from the sky
or stop the howling wind.
We have no more control than the rocks.

Even if we find the treasure we seek,
it will almost always be too heavy to lift,
impossibly located under a cliff
covered over with sea grass, algae,
and fossilized barnacles
protected by great white sharks.
Our only choice, whether we use
our free will to shine.

First appeared in The Enigmatist, Volume 7

MENUJU KELAUT

MENUJU KELAUT
Angkatan baru

Oleh :Sutan Takdir Alisyahbana


Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang, tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat:

"Ombak ria berkejar-kejaran
di gelanggang biru bertepi langit.
Pasir rata berluang dikecup,
tebing curam ditantang diserang,
dalam bergurau bersama angin,
dalam berlomba bersama mega".

Sejak itu jiwa gelisah,
Selalu berjuang, tiada reda,
Ketenangan lama rasa beku,
gunung pelindung rasa pengalang
Berontak hati hendak bebas,
menyerang segala apa mengadang.

Gemuruh berderu kami jatuh,
terhempas berderai mutiara bercahaya,
Gegap gempita suara mengerang,
dahsyat bahna suara menang.
Keluh dan gelak silih berganti
pekik dan tempik sambut menyambut.

Tetapi betapa sukarnya jalan,
badan terhernpas, kepala tertumbuk,
hati hancur, pikiran kusut,
namun kembali tiadalah ingin,
keterangan lama tiada diratap.

Kami telah meninggalkan engkau,
tasik yang tenang tiada beriak,
diteduhi gunung yang rimbun
dari angin dan topan.
Sebab sekali kami terbangun
dari mimpi yang nikmat.

Minggu, 05 Agustus 2012

KERABAT KITA

Oleh : Sutan Takdir Alisyahbana

Bunda,
masih kudengar petuamu bergetar
waktu ku tertegun di ambang pintu,
melepaskan diriku dari pelikmu :
"Hati-hati di rantau orang, anakku sayang,
Berkata di bawah-bawah, mandi di hilir-hilir,
Di mana bumi dipijak di sana langit dijunjung".

Telah lama aku mengembara :
jauh rantau kejelajah,
banyak selat dan sungai kuseberangi,
gunung dan gurun kuedari.
Beragam warna, bahasa dan budaya manusia,
teman aku bersantap, bercengkerama dan bercumbu,
lawan aku bertengkar dan berselisih.

Di runtuhan Harapan dan Pompeyi aku ziarah,
Dari menara Eifel dan Empire State Building
aku tafakur memandang semut manusia.
Di pembajaan Ruhr dan Nagasaki
aku bangga melihat kesanggupan umat
berpikir, mengatur dan berbuat.
Kuhanyutkan diriku dalam lautan manusia
di Time Square di New York dan di Piccadily di London.
Kuresapkan lagu kesepian pengendara unta
di gurun pasir dan batu Anatolia,
sega Islandia yang megah di padang salju yang putih.

Bunda,
Pulang dari rantau yang jauh
berita girang kubawa kepadamu,
resap renungan petua keramat,
sendu engkau bisikkan di ambang pintu :
Di mana-mana aku menjejakkan kaki,
aku berjejak di bumi yang satu.
Dan langit yang kunjung
di mana-mana langit kita yang esa.

Bunda,
Alangkah luasnya dan dahsyatnya kerabat kita
kaya budi kaya hati,
pusparagam ciptaan dan dambaan.

Memahami Puisi, 1995